Membelai cinta dengan air mata..
Menyelami rindu dalam asmara yg menggelora..
Mencumbu sisa langkah dalam tragedi..
Menggubah nada rindu dalam harmoni lirih..
Tatap mataku saat kau kudekati dengan lunglai..
Terimalah mawar layu yg kubawakan untukmu..
Dekaplah beberapa detik tuk sekedar menghirup aroma lelaki yg kau cintai ini..
Rasakan pula derita yg mencabik2 jiwanya..
Mungkin akan kaudapati cintanya yg selalu..
Sepertimu, aku pun menghitung hari demi hari dan langkah demi langkah yg terus menyepit tanpa peduli bahwa cinta akan sampai di pertemuan..
Terima kasih perempuanku karen telah ikhlas disisiku dan masih mesra dalam rindu yg tanpa ujung..
Met 22 ke 45.. Berjalan menuju ujung
Jalanku Belum Juga Usai untuk melangkah…
Meski Akhirnya hatiku kacau balau karena siraman air mata…
Rasanya seperti ketika kau hempaskan setiap kenangan ketika berbunga…
habis sudah bait tuk merebut kisahmu dari lembar cerita yang hampir lapuk….
Ada juga amarah yang kusimpan ketika itu…
Kududukkan Gelisahmu di singgasana lembut tanpa permata….
kudekap erat bayangmu keika bersua dalam angan…
Kusebut namamu di kesendirianku dalam sepi….
sengaja kupejamkan mata tuk hadirkanmu disisiku saat sendiri…
menahan nafas tuk mengakui bahwa lama ku tak bersamamu….
rinduku tlah kusimpan disisi hatimu dan di antara syair-syair cinta…
Ku mencintaimu layaknya perempuanku yang memang kucintai….
Tak ingin kujadikan rindu ini menjadi kisah yang tntas di awal cerita….
22072010.
biarkan kurajut simpul demi simpul temali cerita yang tak jua bertepi…
biarkan ku sejenak tenggelam pada nestapa tanpa suara…
biarkan kuhampiri dirimu yang hanya bayang duhai perinduku yang sunyi…
seandainya sesaat lagi kuberjabat dengan sepi yang sedih….
tak penting kau khawatirkan itu,….
aku hanya lupa tuk katakan padamu….
aku mencintaimu tanpa “karena”
-Polewali, 180610-
Kembali lagi kemusim yang kering… setelah rintik hujan yang menyirami rindu-rindu dan sempat beriringan dengan peluh dan disitu ada air mata yang tersenyum…. pula kita terpaksa berbagi risau dengan angin untuk lanjutan cerita mimpi-mimpi kita,… setelah seuntai salam dan seceraca senyummu malam itu yang kemudian sosokmu bergerak menjauh dan kita berpisah lagi…. setidaknya kau tiba di pembaringan dengan titik air mata yang mengalir begitu pelan dan mesra… seperti blitz kamera saat kucuri ekspresimu dalam gambar yang akhirnya kusadari…di tepi hati yang sedang bersedih aku mencintaimu dan kamu ada di tengah-tengah dadaku… meski akhirnya aku sekarat di ujung warna yang semakin gelap… kuingat lagi seuntai kalimat yang mengalir dari bibirmu yang sambil menatapku tajam dan tanganmu menyentuh leherku engkau berujar “sayangku, Selalu ada waktu”
apa lagi yang kau punya untuk membunuhku beserta rasaku yang haru…..
meng-ombang-ambing tiang nasibku di pucuk awan uang mulai kelabu….
tikam dadaku agar darahnya yang terlanjur menghitam dapat membasuh jiwamu yang meragu….
aku hanya angin-angin kecil untuk membelai bendera yang setengah tiang di batinku….
aku masih merindumu untuk beribu purnama yang belum kita kenali…
kurindu ragamu untuk menghilangkan jejak hitam dibawah kelopak mataku….
demikian pula kurindukan ledakan-ledakan batinmu tuk mengisi semangat cintaku yang kembang kempis….
meski akhirnya hujan mendudukkanku antara peduli dan rindu…
dilematika yang mengharuskanku mengangkat tangan pada pilihanmu….
Kutatap Nanar langit gelap tanpa rasa…..
kuhitung risau rasaku dengan telunjuk lewat tengah malam…
kubelai bayangmu yang nampak sejenak dalam imagi yang kemudian menghilang….
membangun konstruksi dari susunan rindu yang indah…
Perempuanku…
inilah kita…..
Sejoli yang bermain-main dengan cinta….
bergejolak di antara hari-hari yang basah….
bernyanyi dengan irama-irama pelan nan syahdu…
kutitipkan sepotong hatiku di pucuk ilalang hatimu yang bermain angin…
siap kuteguk airmatamu sekedar merasakan rasa risaumu…
esok mungkin bahtera akan hanyut dan karam….
tapi tidak sebelum kesejatian cinta kita tuai…
lusa barangkali hujan tanpa makna kan basahi langkah-langkah kita yang pelan….
tetaplah berharap… karena harapmu adalah cahaya yang kutuju danlam gelapku….
simpan airmatamu untuk hal terindah dan tersakit yang belum kita salami…
selamat 22 ke 43….
Huh….. Langkah-langkah menuju dewasa yang basah karena air mata…
Kulihat ombak berkejaran ketika busa-busa sisa riak teluk mandar menyapu kekuk hatiku yang rindu….
demikian angin pesisir membelai belakang telingaku saat kudengar bisik sayang dari bibirmu yang menghangat…
aroma laut melempar anganku ke saat-saat kita menukar kenangan dengan tawa tepat di antara huruf A dan I Pantai Losari….
Pernah juga di belakang layar yang penuh balon-balon dari sabun….
tapi disini…
di pesisir pantai polewali mandar, aku merindumu sambil menatap segitiga layar perahu Sandeq bersama hatiku yang pilu….
sayang, gerimis dan air mata mengusirku pulang dari bekas pelabuhan ini dan lelap di peraduan sekedar untuk menyapamu dalam mimpi..
-Teluk Mandar, 19 Sore 2010-
lembayung mendung rintik hujan penghujung pagi….
halimun kesejukan menyambut cahaya yang sejak tadi tak mengintip…
gerimis itu ironi yang tak berujung…
laksana sajak tanpa bait-bait syair….
langit, hujan gerimis, cahaya dan kesejukan…
itu kompasku untuk merindu dan tidakkah kau tahu..
moment itu melukiskan bayangmu di benakku…
Selepas Ashar…
setelah do’a-do’a ditiupkan kelangit…
mengumbar risau dan pengharapan….
akhirnya tak ada yang berubah….
sebentar sehabis magrib….
ketika langit menyambut gelap….
degup jiwa semakin memburu….
adakah ketenagan ketika malam….
setelah cahaya….
berpapasan dengan gelap….
ada ekstase dalam gelap tapi ia belum juga mesra…
mungkin mengubur penat jiwa….
risau terus saja menguap….
ego kini dititik puncak….
menumpahkan simbolisasinya lewat airmata…
cahaya dan kegelapan sama tak mesra…
rindu untuk cinta masih saja tersisa..
Rubuh remuk terkapa…
jejak langkah tak mampu di kejar….
risau sudah rindu yang nanar….
embun dan air mata jatuh dengan bulir-bulir…
lapang hati tak sempat di terkam….
menunggulah lagi untuk seribu musim….
harapan pasti datang setelah diam…
di penghujung gelap setelah malam….
ada kecewa di balik kesedihan, hanya mengintip karena malu.. akhirnya pergi… akhirnya sunyi…..