Arsip

Archive for the ‘Kritik’ Category

CATATAN: 18 KEBOHONGAN PEMERINTAH

Aktivis dari berbagai LSM ikut bersuara mengkritik jalannya pemerintah Presiden SBY di periode kedua kepemimpinannya. P
ara aktivis mencatat, ada 9 kebohongan lama dan kebohongan baru yang dilakukan SBY selama menjadi kepala negera.

“Ada 9 kebohongan lama dan 9 kebohongan baru yang dilakukan rezim SBY selama pemerintahannya,” ujar aktivis dari Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti, di Gedung PP Muhammadiyah, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Senin (10/1/2011).

9 Kebohongan lama yang dicatat para aktivis yaitu:
1. angka kemiskinan yang semakin meningkat,
2. kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi,
3. ketahanan pangan dan energi yang gagal total,
4. anggaran pendidikan yang terus menurun,
5. pemberantasan teroris yang belu maksimal,
6. penegakan HAM yang tidak ada tindak lanjut hukumnya.
7. kasus Lapindo yang penyelesaiannya belum jelas,
8. kasus Newmont yang nyatanya terus saja membuang limbah tailing ke Laut Teluk Senunu, NTB sebanyak 120 ribu ton
9. terakhir freeport sampai tahun 2011 ini,
“tidak terlihat upaya signifikan untuk melakukan renegosiasi kontrak,” kata aktivis lainnya Denny Furqon.

Selain 9 kebohongan lama itu, para aktivis ini juga mencatat 9 kebohongan baru.

1. tidak transparansi dalam menjalankan pemerintahan.
“Untuk transparansi pemerintahan kita mencatat SBY mengatakan dia menerima surat tertanggal 25 April dari Zoelick dan meminta Sri Mulyani bekerja di Bank Dunia pada 30 April. Nyatanya, yang terjadi beberapa pejabat di Kementerian Keuangan menyatakan bahwa Sri Mulyani sesungguhnya dipaksa mengundurkan diri dan ditawarkan pekerjaan di Bank Dunia sebagai jalan keluar yang tidak mempermalukannya,” beber aktivis Stevanus Gusma.
2. kebebasan beragama dan persatuan bangsa seperti yang dicanangkan SBY hanya angin lalu. Tak hanya kebebasan beragama, kebebasan pers juga hanya impian insan pers. “Untuk kebebasan beragama sepanjang tahun 2010 ini saja terjadi 33 kali penyerangan fisik atas nama agama.”
3. Dan untuk kebebasan pers LBH Pers mencatat untuh tahun 2010 ini, ada 66 kasus fisik dan non fisik yang terjadi pada insan pers. Untuk yang tewas tercata 4 kasus,” jelas Riza Damanik.
4. kasus pelecahan dan kekerasan terhadap para TKI di luar negeri nyatanya tidak pernah menghasilkan solusi yang baik dikalangan pemerintah. Tak hanya nasib TKI di dibiarkan terkatung-katung,
5.pemerintah Indonesia juga tidak bisa berbuat banyak saat Kedaulatan NKRI terkait penangkapan 3 petugas KKP beberapa waktu lalu oleh polisi Malaysia.
6. Yang paling menyedihkan, 3 dari 9 kebohongan rezim SBY menyangkut penegakan hukum di Indonesia. Slogan siap memberantas korupsi hanya terlaksana 24 persen sepanjang tahun 2010.
7. “Kasus rekening gendut perwira Polri pemiliknya masih misteri, bahkan mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengatakan kasus ini sudah ditutup, sampai 2010 juli kami mencatat ada 122 saksi/pelapor
8. anti korupsi yang mendapat intimidasi dan kekerasan, juga dikriminalisasi.
9. Yang terakhir terkuaknya kasus plesiran tahanan Gayus Tambunan,” ungkap aktivis ICW Tama S Langkun.

Untuk suhu politik sendiri, SBY juga ternyata dinilai gagal menciptakan politik yang bersih, santun dan beretika. “Contohnya dapat kita lihat dari kasus Andi Nurpati yang menjadi pengurus DPP Demokrat dan meninggalkan sumpah jabatan di KPU,” ujar aktivis Kontras Haris Azhar. http://forum.kompas.com/nasional/34089-18-kebohongan-pemerintah.html

 

Categories: Kritik

Ramadhan dan Simulakra

Oleh : Bahrul Amsal.

Ramadhan telah memasuki hari yang kedelapan dan hendak memasuki hari kesembilan. Sudah menjadi tradisi didalam masyarakat kita jika tiba pada bulan ilahi banyak terjadi perubahan yang serba cepat. bukan saja masyarakat, komponen-komponen media pun berlomba-lomba menyuguhkan menu ramadhan untuk mencari berkah bulan yang dijanjikan pahala berlipat. Dari acara berita hingga sinetron, banyak yang berlomba-lomba menarik minat penonton untuk menaikkan reting siarannya. Iklan-iklan yang sebelumnya tak memiliki kaitannya dengan bulan ramadhan justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Para tokoh-tokoh iklan nampak berbusana muslim, wanitanya indah dengan kerudung warna-warninya, sedang prianya tampan terlihat dengan baju koko plus dengan kopiahnya. Stasiun televisi berlari secepat mungkin mempertontonkan kealiman acara-acaranya, menggelar tabligh akbar sampai memperlihatkan orang-orang yang berurai air mata dengan pesan-pesan ustad dadakan. Singkat cerita bila kita menonton tayangan-tayangan yang disuguhkan selama bulan ramadhan, maka kita pun serempak menjadi penonton yang soleha.

Apa yang terjadi selama bulan ramadhan adalah fenomena unik yang patut kita apresiasi. minimal selama bulan ini kita menuntun diri untuk memacu jiwa agar menjadi insan yang bertakwa. Namun kiranya perlu digaris bawahi bahwa fenomena yang kita saksikan dalam sebulan didalam media-media adalah fenomena yang berwajah ganda. Disatu sisi ia menyuguhkan religiuitas namun disisi lain ada permainan simbol yang memberikan pemaknaan kedua. Pemaknaan kedua inilah yang kita hendak kaji. Oleh Baudrillard, pemaknaan kedua ini disebut dengan simulakra.

Simulakra dicetuskan pertama kali oleh Jean Baudrillard, salah seorang filosof Perancis yang terkenal. Simulacra dapat diartikan sebagai tanda/simbol yang dibuat di media atau budaya untuk mempersepsikan realitas. Menurut Baudrillard, pada masyarakat modern, kenyataan telah digantikan oleh simulasi kenyataan, yang hanya diwakili oleh simbol dan tanda. Sadar atau tidak, bulan ramadhan telah dipersepsikan melalui media dengan permainan tanda dan simbol yang menjauhkan kita dari realitas yang sebenarnya. Penyuguhan media-media telah mengganti persepsi manusia dengan persepsi yang mereka hadirkan. Ramadhan yang seharusnya dilewatkan dengan pemenuhan ibadah bagi kita akhirnya tergantikan oleh kepentingan yang dihadirkan oleh simulakra itu sendiri.

Dunia adalah pergumulan ideologi. Begitu pula ramadhan. Tradisi yang terbangun dalam bulan ramadhan juga menjadi santapan dari ideologi yang berkuasa. Bila dalam masyarakat dulu ramadhan kerap kali di isi dengan peribadatan yang melibatkan spritualitas person dalam kolektivitas zikir yang menisbahkan diri pada capaian akhirat maka dalam dunia modern sekarang ramadhan hanyalah dimaknai sebagai pertunjukan lahiriah simbol-simbol spritualitas. Mall-mall dipenuhi dengan simbol-simbol semisal gambar bintang-mesjid, karyawannya dipenuhi dengan identitas keagamaan semu,sementara pembelinya berlomba-lomba melakukan tawaf untuk mencari aksesoris yang berbau agama [islam]. Ramadhan telah menjadi simulasi hasrat religiuitas masyarakat yang kering selama sebelas bulan lamanya. Bulan Ramadhan adalah bulan yang melimpah ruahnya modal dengan memanfaatkan hasrat keagamaan masyarakat modern.

Masyarakat modern adalah masyarakat yang jauh dari curahan air spritualitas. Lihatlah negara-negara maju maupun berkembang, semakin banyaknya saluran-saluran yang menyuguhkan wadah untuk pemenuhan spritualitas yang dikekang selama berabad-abad. Maraknya perkumpulan yoga dinegara maju adalah salah satu bukti dari asumsi ini. kelompok-kelompok zikir akbar yang marak dinegeri kita juga tak luput dari permasalahan ini. fenomena inilah yang pada bulan ramadhan dijadikan sebagai ajang untuk meraup keuntungan bagi negara berkuasa melalui penciptaan simulasi-simulasi melalui permainan simbol dan tanda.

Selanjutnya,Proses simulasi ini menggiring manusia untuk merasa bahwa mereka memasuki sebuah ruang realitas yang dirasa nyata dan lebih baik padahal sesungguhnya ruang realitas itu hanyalah citra dan khayalan semu semata. Melalui simulasi Ramadhan akhirnya masyarakat digiring pada spritualitas yang berhamba pada modal. Seakan alim namun lalim pada ketakwaan sprtualitas. Akhirnya Makna dari religiuitas hanya diukur dengan tanda-tanda atau simbol yang merupakan hasil penciptaan realitas yang semu. Kita dianggap religius ketika sudah berbaju koko, kaum perempuannya dianggap takwa ketika selama bulan ramadhan menggunakan penutup aurat sedang berakhir ramadhan maka akan kembali pada kondisi semula.

Akhirnya bulan yang dipenuhi kasih sayang tuhan, berkah yang melimpah, pahala yang dilipatgandakan serta bulan menuju ketakwaan menjadi bulan yang hanya dipersepsi melaui permainan media. Pada bulan ramadhan ini akhirnya kita terjerumus pada hipperspritualitas yang menjadi spritualitas yang tanpa asal usul.

Categories: Kritik, Pengetahuan

Piala Dunia dan Dana Apirasi

hampir semua penjuru dunia menyaksikan piala dunia sebagai ajang sepak bola terbesar, demikian pula di indonesia meski penduduknya tak semuanya dapat menikamti piala dunia karena proses pasar yang rumit tuk dijelaskan. disisi lain anggota dewan kita berdebat persoalan dana aspirasi yang ingin dibagikan dan menjadi permainan politik kelas atas. pertanyaan kemudian apa hubungan piala dunia dengan dana aspirasi?
Dana Aspirasi DPR (DAD)
wacana dana aspirasi adalah dana yang dibagikan kepada setiap anggota dewan untuk mengembangkan daerah pemilihannya dan dana ini di ambil dari APBN setiap tahunnya. Apa alasan di balik usulan Dana Asprasi DPR ini? Sederhana jawab Fraksi Golkar, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan pembangunan dan percepatan turunnya dana pembangunan ke daerah yang selama ini dirasakan masih kurang memuaskan.
namun jika hal ini kemudian di lihat dari kecenderungan politik praktis maka setiap anggota yang kemudian terpilih mempunyai kuasa untuk membayar balik konstituennya dalam bentuk proyek-proyek pengembangan lain dan juga dengan melihat anggota dewan yang tersebar di wilayah barat dan timur indonesia maka tidak akan ditemukan pemerataan pembangunan seperti yang di harapkan pemerintah
Piala Dunia yang Tidak Mendunia
namun apa yang terjadi dengan piala dunia, perlu diketahui bahwa di indonesia tidak semua orang yang dapat menikmati piala megapa karena proses ekonomi jual beli yang dilakukakn official terhadap beberapa perusahaan penyiaran berdampak kepada tidak dapatnya masyarakat ekonomi lemah untuk menikamati piala dunia di beberapa daerah.
Kesamaananya Adalah??
Bahwa melihat lemahnya peran pemerintah untuk memberikan pemerataan kepada masyarakatnya termasuk sesederhana piala dunia maka untuk hal besar terkait DAD maka tentu saja akan sangat rumit dan tidak akan sampai kepada pemerataan pembangunan. selain daripada itu perhatian masyarakat kemudian tertuju kepada besarnya event akbar piala dunia dan kemudian berbanding lurus dengan ketidak pedulian masyarakat terhadap bergulirnya wacana DAD yang menjadi permainan elit untuk meneruskan kepentingannya dan memiliki banya kerancuan didalamnya.

Dibalik Video Ariel, Luna Maya dan Cut tari

ramai media belakangan ini membincangkan video mesum mirip ariel, luna dan cut tari baik di media cetak maupun elektronik termasuk beberapa sosial networking topik ini tak pernah sepi. Beberapa orang mungkin melihat ini sebagai sekedar sensasi, wacana media atau sekedar berita biasa yang sedang booming. padahal tanpa disadari wacana ini sedikit menghancurkan beberapa norma dalam masyarakat yang kemudian melihat hal yang sifatnya tabu menjadi hal yang biasa.
Budaya ketimuran kita menganggap hal yang berbau seronok, porno, seks, aurat dan sejenisnya merupakan hal yang tabu dalam masyarakat. namun apa yang terjadi. boomingnya Video mesum mirip ariel, luna dan cut tari membuat beberapa bahkan sebagian besar orang penasaran dan ingin melihgat video tersebut. parahnya lagi adalah media mengangakat pemberitaan tersebut di saat waktu nonton keluarga ataukah biasa disebut prime time yaitu saat dimana semua unsur meluangkan waktunyta untuk menonton televisi.
ketika batasan norma mulai dikikis maka hilanglah budaya ketimuran dari tengah-tengah masyarakat diikuti dengan lenyaonya sesuatu yang tabu sebagai batasan normatif suatu masyarakat.

berikutnya ketiga selebritis ini dengan statusnya sebagai seorang selebritis, publik figur atau trendseetter tentu mempunyai penggemar atau fans yang tidak sedikit dan tentu saja terus melakukan imitasi atau proses pencontohan terhadap gaya, sikap dan kelakuan seorang trendsetter. maka dari itu dilapisan masyarakat bawah kejadian-kejadian proses imitasi ini terus terjadi tanpa terpubliksi dan sedikit tanpa kontrol. maka dari itu menjadi tugas berbagai unsur bersikap baik dan benar terhadap kejadian maupun pengendalian wacana seperti ini.

Jika Agama Adalah Candu, Bisa Jadi Teknologi Adalah Agama Baru.

Perkembangan pesat teknologi menunjukkan arah kepada manusia untuk mempersempit ruang dan waktu, garis hubungan kemudian membuka komunikasi antar manusia yang tidak terbatas. Tidak ada manusia yang mampu menolak pesatnya teknologi, ini adalah keniscayaan di mata para materialis. Fungsi peran teknologi sendiri tengah masyarakat seperti kodratnya adalah memberikan kemudahan dalam setiap sendi-sendi kehidupan.

Secara social, teknologi menenggelamkan komunikasi tatap muka namun membuka ruang terbuka untuk kemunikasi terbuka yang lebih luas maupun global, dalam keluarga misalnya seperti yang di tunjukkan sebuah penelitian bahwa sebahagian besar remaja menyelesaikan masalahnya sendiri lewat internet ketimbang berkomunikasi dengan orang tua sebagai contoh. Secara ekonomi masyarakat bertransaksi melalui digital, kredit card dan bursa saham contohnya sedangkan di sekop kecil industry rumah tangga memperluas jarigannya dengan iklan-iklan digital di media elektronik. Pandangan budaya melihat teknologi sendiri memudahkan orang untuk saling melakukan pertukaran dengan kebudayaan lain sehingga menghapus kebudayaan lama menjadi kebudayaan baru yang lebih popular.

Megembalikan kodrat teknologi adalah hamper sama dengan pengembangan tanpa henti karena seperti yang kita ketahui manusia itu bukanlah mahluk yang dapat terpuaskan begitu saja sehingga tak henti-hentinya berusaha untuk mendapatkan kemudahan dan kemudahan itu kemudian dapat disajikan oleh teknologi. Di era digital seperti sekarang ini yang dimana teknologi hamper bias memberikan sedikit demi sedikit kepuasan bagi manusia.

Terlepas dari hilangnya makna diri manusia itu sendiri, terlepas dari manusia yang saling memanusiakan manusia, mengangkat diri dari paradigma dan budaya lama tidaklah salah barangkali bilamana makna telah kehilangan maknanya, penyebabnya adalah segala problematika hidup manusia tidak lagi hanya terpuaskan saat menengadah tetapi lebih terpuaskan saat search engine melakukan pencarian dan keyboard siap menerima permintaan. Tidak kah itu begitu sederhana dan pasti.. (Kandaeng Aiman)

Categories: Kritik Tag:, ,

Mahasiswa: Social Control atau Masalah Sosial

April 3, 2010 3 komentar

Kelas Mahasiswa adalah kelas menengah dari struktur masyarakat yang di akui banyak pihak adalah langkah terakhir untuk melanjutkan bahtera negara. Pahaman demikian itu kemudian menumbuhkan sebuah kultur dan doktrin yang dalam terhadap apa yang disebut sebagai idealisme, karakter, prinsif dan perjuangan. kultur dan doktrinasi demikian mendudukkan mahasiswa kedalam sebuah tanggung jawab sosial sehingga berkembanglah jargon perlawan guna mempertegas posisinya, sebut saja: Mahasiswa adalah sosial control, moral force dan agent of change. tapi apa kemudian yang terjadi.

Berdiri di tengah menara gading pendidikan justru menghilangkan kepeduliannya pada suatu sisi kehidupan. idealisme dan jargon kemudian membuat mahasiswa membenci sebahagian kaum. respon terhadap masalah sosial terkadang justru menghasilkan masalah sosial baru.  niatan meski berangkat dari titian yang baik membuat mahasiswa tenggelam dalam uforia perlawanan, ban terbakar, orasi, kemacetan, tawuran dan banyak bentuk permasalahn lainnya. membuat kaum ini bukan lagi menjadi kaum pengendali tetapi justru menjadi kaum yang di kendalikan. dekat dengan politik lokal maupun nasional dan menjadi aktor no. 2

berangkat dari term itu akhirnya setiap unsur masyarakat bisa menarik kesimpulan atas ulah-ulah sekelompok kecil dari keseluruhan mahasiswa. namun sebahagian masyarakat tak peduli lagi untuk memilah bahkan terkadang mengeneralisasi: itu mahasiswa lagi demo bikin macet saja. meski berangkat dari landas berfikir yang baik gerakan kemahasiswaan kemudian tercoreng, wajah kampus akhirnya hitam di mata masyarakat. saya tidak mencoba meng-akhiri tulisan ini dengan jawaban, tetapi dengan kegelisahan yang nyata: Pantaskah mahasiswa hari ini di pandang sebagai mahasiswa? akankah masyarakat luas menerima kita setelah di lempar dari menara gading dunia pendidikan?  Benarkah mahasiswa itu kontrol sosial atau malahan mereka adalah masalah sosial?

(Kandaeng Aiman)

Mahasiswa VS Mahasiswa

Oleh: Bahrul Amsal, Ketua Umum Federasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Periode 2009-2010

Jean Paul Sartre, si empunya eksistensialis pernah di paksa turun dari podium tempat ia menyampaikan orasinya pada penghujung aksi yang dilakukannya bersama gelombang mahasiswa pada saat prancis sedang mengalami fase peralihan pasca revolusi yang terjadi pada saat itu. Kekesalan mahasiswa pada saat itu memuncak lantaran keseringannya Derrida sering menjadi orang yang paling depan untuk menyuarakan aspirasi pada zamannya. Pada momen itu mahasiswa menunjukan kesan bahwa sudah saatnya mereka bicara, bukan lagi sebagai massa yang hanya ikut dalam barisan aksi. Jauh di negeri seberang keluar digtum dari seorang pria berkopiah “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kupindahkan gunung Himalaya”, dengan lantang kalimat ini pun menjadi semangat pada saat dimana Indonesia baru keluar dari penjajahan imperialism pada saat itu. Jauh hari sebelumnya sesosok pemuda dengan teman-temannya merencanakan satu peristiwa penting yang ditulis pada buku-buku sejarah kelak. Gerombolan ini merencanakan rencana yang sangat berani, menculik presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Sukarni nama pemuda itu. Dia dan gerombolannya berniat memaksa agar Soekarno serta wakilnya untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia agar tidak lagi dijajah oleh pemerintah belanda.
Masih banyak kisah serupa seperti di atas yang menggambarkan keberanian mentalitas mahasiswa serta daya cekatan yang menjadi salah satu dari identitas yang melekat pada mahasiswa. Pada tulisan kali ini penulis hendak memetakan kepada pembaca budiman bahwa, pada dinamika kampus selalu hadir manisfestasi identitas-identitas yang mewakili mahasiswa sebagai person dalam praktik dan teoritisnya. Perlu diperhatikan dalam fakta yang ada, urgensi pada pembahasan kali ini tidak hendak mengikuti nalar mahasiswa pada konteks teoritisnya saja tapi juga meneropong seluk beluk pertarungan identitas yang nampak di permukaan sebagai pergumulan kepentingan ditinjau dari cara pandang yang ada.
Mahasiswa dikenal dengan idealisme, semangat, daya cekatan, keberanian dan seperangkat nilai yang mendorong ia sebagai civil progress di tengah-tengah masyarakat tempat ia berada. Sejarah menggariskan satu benang merah dan sampai kepada zaman dimana kita hidup, bahwa mahasiswa bukanlah ruang kosong oleh pemaknaan melainkan di dalam katanya terkandung bara api yang menyayat. Kita pada hakikatnya telah dibesarkan oleh sejarah perjuangan para pendahulu kita. Mahasiswa sebagai identitas telah kita terima sebagai baju keseharian kita. Hanya saja baju itu bagi kita tak laik lagi untuk dikenakan karena kelusuhan dan warnanya yang tak lagi cemerlang.
Hedonism: Berhala Mahasiswa
Zaman bukan lagi berbicara tentang seberapa seringkah engkau dipanggil Puang, Andi, Karaeng serta sejenis embel-embel kelas ningrat, malah sudah tergantikan seberapa panjangkah gelar akademik yang diterakan pada nama. Bukan lagi baju bodo, sirrina pacce melainkan bagaimana engkau tampil dengan barang-barang yang engkau miliki. Produk-produk telah menggantikan manusia sebagai esensi identitas sebenarnya. Mulailah zaman menjadi “pameran akbar” para penyembah barang. Jikalau pada zaman dulu, para manusia mempercayai suatu benda yang dianggap keramat memiliki roh dan memposisikan benda tersebut sebagai sesuatu yang sakral, maka tak ada perubahan sama sekali dengan zaman kita. Barang telah menjadi pujaan serta sembahan yang kita sakralkan dalam keseharian kita. Fetisisme produk yang menganggap bahwa barang-barang yang kita miliki memiliki unsur magis, roh dan pesona telah melahap habis nalar yang kita miliki. Melalui apakah unsur magis, roh dan pesona itu bekerja? Demi sebuah life style, demi sebuah prestise dan harga diri, orang-orang ikhlas menghamburkan uangnya hanya untuk dapat eksis dan dikenali oleh orang-orang di sekitarnya. Aku bergaya maka aku ada.
Hedonism telah mengambil posisi tuhan dalam hati mahasiswa sekarang. Sebuah parade kehidupan kampus yang menonjol dan telah menjadi symbol hidup para pemuja berhala produk. Keterlenaan dengan barang menjadikan mahasiswa tampil dengan isu sentral life style. Ukuran engkau ada adalah seberapa banyakkah baju yang engkau miliki, merek apakah barang dan dimana barang itu bisa di dapatkan dan juga pembicaraan absurd lainnya kini menjadi ayat-ayat yang sering dijadikan zikir pada kolektivitas religi yang mereka lakukan. Sebuah identitas baru telah hadir untuk menggusur keberadaan identitas mahasiswa sejati dalam percaturan social kampus.
Sementara pada poros yang lain, terdapat elemen lain yang senantiasa menanti datangnya perubahan dengan cara membangun kolektivitas massa melalui pertemuan-pertemuan pengetahuan. Berdiri di tengah- tengah arus budaya hedonisme sembari memperteguh niat guna meretas sejarah yang lebih baik. Satu identitas dengan comitmen tinggi yang memegang teguh amanah sejarah para pendahulunya. Mereka inilah yang kerap kali diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit untuk selalu eksis. Idiom perjuangan dan ideologisasi telah menjadi makanan keseharian mereka, buku dan diskusi adalah tameng mereka dan idealism adalah penuntun mereka.
Kampus menjadi pentas besar dalam pertarungan sejati antara dua identitas ini, antara hedonisme dan idealism, antara produk dan pikiran. Mahasiswa versus mahasiswa akan selalu terbentang dan menyeret siapa saja di antara kita untuk menjadi para pengikut-pengikutnya.[]

Categories: Kritik Tag:

Menanti Kebangkitan mahasiswa dan tantangan perubahan sosial

Sejarah Indonesia adalah sejarah angkatan muda. Bisa disimpulkan bahwa hampir setiap perubahan yang terjadi ditubuh negeri ini merupakan hasil dari mesiu kaum muda, mahasiswa salah satu diantaranya. Apabila kita telusuri jejak sejarah Indonesia, peran dan fungsi mahasiswa memiliki dampak yang signifikan untuk gerak perubahan negeri kita.
Sejarah menuliskan pada tahun 1908 telah berdiri organisasi pertama yang diprakarsai oleh kaum muda yang pada saat itu berstatus mahasiswa. Budi utomo yang hadir dengan tujuan untuk merangkul kaum pribumi sebagai komunitas yang menyatukan gagasan akan persatuan nasional yang memang saat itu masih kurang dipemahaman masyarakat menjadi awal dimana mahasiswa mulai memainkan perannya sebagai manusia perubah, dalam organisasi ini lahirlah tokoh-tokoh muda seperti dr. Soetomo, dr. Gunawan mangunkusumo dan dr.Rajiman. disamping itu hal ini tidak terlepas dari konsep nasiont state yang diprakarsai oleh ernest Renan sekitar pertengahan tahun 1890 sebagai sumbangsih pemikiran untuk memberikan bentuk kepada negeri-negeri yang belum memiliki batas-batasan yang kongkrit mengenai bangsa dalam semangat nasionalisme. Dari sinilah selain budi utomo, lahirlah organisasi-organisasi yang memiliki kesadaran akan pentingnya persatuan yang berpayung dalam satu bangsa untuk mencari identitas negeri ini. Lahirlah Sarekat islam, Muhammadiyah, jong Java, Jong Celebes, jong maluku, jong borneo, jong sumatera yang saat itu masih bersifat kedaerahan (island people) dalam eksistensinya untuk memerdekakan diri. Dari sini sudah dapat kita lihat betapa berperannya kaum muda dalam membentuk sejarah kebangsaan. Selain konsep nasiont state, politik etis yang diterapakan kepada bangsa kita pada awal-awal perjuangan bangsa Indonesia sebagai bentuk hegemoni oleh pihak luar (baca barat) juga memiliki peran tersendiri dalam membentuk karakter Indonesia pada saat itu. Secara tak langsung politik etis memberikan sumbangsih nyata terhadap masyarakat Indonesia saat itu. Tokoh nyata dari penerapan politik etis tersebut adalah Bung Karno yang pada saat itu bersama angkatan muda lainnya sudah mulai mengenal pendidikan modern ala barat. Tahun 1998 pula telah menjadi tonggak sejarah dari mahasiswa itu sendiri, walaupun dari banyaknya pendapat yang berkembang hingga sekarang bahwa bukan Cuma mahasiswa saja yang berperan pada saat penggulingan penguasa orde baru pada saat itu tetapi telah ada campur tangan pihak asing dalam peristiwa yang pada akhirnya sering kita kenal dengan permulaan era baru, era reformasi. Dari paparan singkat diatas dapat kita lihat bahwa semenjak bangsa kita masih mencari konsep kenegaraan pada saat itu pula telah lahir generasi baru yang turut memberikan peranannya dalam membentuk wajah Indonesia pada saat itu. Kejadian kejadian yang sering kita cermati belakangan ini pun terdapat sumbangsih mahasiswa di dalamnya.
Terlihat jelas dalam setiap peran mahasiswa tidak terlepas dari kondisi yang melatarbelakangi sehingga munculnya inisiatif dari mahasiswa itu sendiri. Lahirnya peranan mahasiswa dalam struktur masyarakat Indonesia yang masih berwatak feodal pada saman itu hingga detik ini setidaknya telah membawa angin perubahan demi eksistensi Negara kita. Munculnya generasi baru ini merupakan suatu keharusan dalam setiap perkembangan zaman yang ada. Keterwakilan mahasiswa sebagai agen pelopor sudah seharusnya mampu menjawab tantangan dari dinamika gerak roda perubahan yang merupakan suatu keniscayaan. Mahasiswa yang dikenal sebagai penjaga moral pada dasarnya merupakan bentuk ideal dari suatu komunitas jika di perhadapkan dari berbagai situasi manapun.

SOSIOLOGI DALAM PUSARAN APATISME

(penulis adalah mahasiswa Sosiologi FIS UNM sekaligus menjabat ketua Umum HMJ sosiologi FIS UNM periode 2008-2009/Zulkifli Abdullah)

Ditulis Untuk Buletin Mahasiswa Sosiologi SKEPTIS

pernakah kita merenung terhadap eksistensi diri kita baik sebagai manusia seutuhnyamaupun sebagai seorang yang menyandang status tertentu?? Dan apakah kita pernah menyadari Gerak langkah yang kita lakukan sebagai sebuah hasil keputusan otoritas rasional kita??? Serta dimana dan apa kita perbuat sekarang??? Ingat kawan bahwa saat ini kita telah mengharapkan korban!!!! Karena korban-korban itulah kelak akan mengungkap fakta dan kebenaran absolut!!!! Tapi perlu kita ingat dan pahami bahwa korban ini butuh keberanian sebagai tumbal!!!!


Mahasiswa adalah sosok intelektual yang peran dan fungsinya sangat dibutuhkan dalam ranah publik. Apabila kita melakukan flash back konstelasi dinamika public mulai dari pra sampai pada pasca kemerdekaan Republik Indonesia sebagai Negara Independen dalam mengelola potensinya secara universal baik pada rana manusianya maupun dirana Sumberdaya alamnya, peran mahasiswa selalu ada sebagai kekuatan pelopor mengikuti proses dinamika dan progresifitas masyarakat Indonesia dalam melakukan perubahan ( chage). kalau kita merenungi sejarah gerkan pemuda, mahasiswa dan rakyat mempersiapkan Negara independen yang punya otoritas kedaulatan baik didalam maupun keluar maka yang tersingkap dalam pemikiran kita adalah bagaimana kekuatan pemuda intelektual yang kemudian mengorganisasikan diri untuk duduk bersama dalam menjawab problematika kebangsaan yang saat itu marak terjadi ketidak adilan. Kepastian dalam melakukan langkah perubahan,untuk mencapai cita-cita ideal adalah sesuatu yang sudah menjadi kepastian hidup dan menjadi tujuan setiap manusia ditengah pengembaraan menuju kediaman yang sesungguhnya. Berangkat dari landasan berpikir ditas, maka selayaknya sebagai seorang intelektual tentunya tindakan yang akan kita ambil harus berangkat dari eksplorasi yang sangat matang dan memutuskan bertindak berdasarkan kebenaran yang sudah menjadi keyakinan adalah hal yang mencirikan sosok intelektual sebagai generasi penerus estafet perjuangan bangsa. Mahasiswa adalah salah satu dari komunitas intelektual yang lebih banyak meluangkan waktunya dalam kerja-kerja keintelektualan seyogyanya aktifitas yang dilakukan juga mencirikan sosok intelektual dimana kognitif, afeksi dan psikomotor teruji dan terlatih secara efektif. Ketika semua element yang tergabung dalam ruang lingkup intelektual sudah sadar akan eksistensi dirinya, maka ini akan memudahkan kita bersama menuju orientasi pencapaian cita ideal. Sebagai mahasiswa, sudah menjadi kepastian gerak langkah aktivitas dominan kita untuk tetap mengkaji dan mengaplikasikan fungsi dan peran kita dalam pusaran kampus secara mikro maupun dalam pusaran public secara makro. Ketika kultur intelektual sudah menjadi wabah dominan dalam dunia kampus dan kemahasiswaan maka secara serentak prosesi perubahan akan dapat kita gapai secara bersama dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan mandiri secara produktif. Namun Mahasiswa sosiologi FIS-UNM, memperlihatkan kondisi yang berbeda. Padahal jika ditinjau dari segi disiplin ilmu yang digeluti, materi-materi yang termaktub didalam disiplin ilmu sosiologi secara intrinsik dan ekstrinsik berorientasi kepada keilmuan serta ending dari kajiannya mengarah kepada perubahan social. Dengan dasar itu, tidak ada alasan bagi mahasiswa sosiologi untuk lari dari kenyataan dan menonjolkan sikap apatis dalam meliat konteks social. Secara bertahap, untuk sampai pada orientasi perubahan social, langkah awal yang kita lakukan adalah melakukan REVOLUSI paradigmatik dikalangan mahasiswa sosiologi secara khusus maupun kalangan mahasiswa UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR secara umum sebagai sebuah bekal dalam menganalisis segala sector yang melingkupi manusia. Jadi, yang kita kedepankan untuk menggapai hal y ang dimaksud diatas,adalah menyatukan persepsi secara kolektif dalam menjawab apa yang menjadi problem dan kebutuhan kita secara intelektual tanpa tekecuali. Jika yang dimaksud diatas dapat kita junjung tinggi secara bersama, maka niscaya kita akan sampai pada cita-cita bersama dengan penuh kebersamaan. Realitas yang terjadi dikalangan mahasiswa sosiologi justru memperlihatkan tindakan yang padadasarnya tidak mecerminkan keadaan mahasiswa yang seutuhnya. Nuansa keitelektualan seolah mahal dan sulit untuk dilakukan sehingga ini pun hampir tidak pernah ditemukan dalam aktivitas keseharian dalam kehidupan kampus. Entah mengapa hari ini tidak banyak lagi yang melakukan kerja-kerja mulaih itu, padahal secara histori bangsa ini berdiri atas kerja keras para intelektual terdahulu yang resah dengan kondisi masyarakat yang banyak mengalami penindasan sehingga mereka pun mengorganisasikan diri dalam bentuk kelompok-kelompok belajar yang kemudian lambat laun beruba menjadi keolompok besar dan menjadi kekuatan terbesar pula dalam mempelopori perjuangan kemerdekaan Indonesia. Budaya hedonisme yang masuk kedalam dunia kampus itu mampu merubah karakter mahasiswa yang sesungguhnya sampai-sampai dapat melupkan apa yang menjadi tujuan, fungsi, dan peran utama mahasiswa. Untuk itu, saya ucapkan selamat datang kepada adik-adik mahasiswa baru sosiologi, dikampus orage semoga anda dapat menjadi agin segar buat mahasiswa sosiologi secara khusus dan tingkat universitas secara umum.semoga adik-adik mahasiswa baru yang akan mengingjakkan kakinya didunia kampus sekaligus memilih jurusan sosiologi sebagai wadah persinggahan dalam menginjakkan kaki didunia kampus dapat menjadi agen pembaharu yang akan kemudian mempelopori gerakan perubahan di sosiologi pada skala mikro serta kedepannya dapat memperlihatkan identitas sosiologi sebagai jurusan yang dapat dijadikan patron di UNM. Wassalam……………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Categories: Kritik

Universitas Negeri Makassar dalam Tafsir Semiotika: Sebuah Kebohongan Besar

Oleh: Bahrul Amsal, Ketua Umum Federasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial UNM Periode 2009-2010

Ditulis Untuk Buletin D[Konstruk]Si

UNM dimata masyarakat adalah perguruan tinggi yang menerapkan kebijakan pembiayaan pendidikan dengan standar minimum Rp. 375.000 atau bisa dikatakan yang termurah dalam kategori negeri jika dibandingkan dengan perguruan tinggi  lainnya di Indonesia Timur. Namun pada belakangan ini, asumsi di atas perlu  di ragukan kebenarannya. Apabila dilihat dari fakta-fakta sekarang, pendapat diatas cenderung dapat dibenarkan. Pada tulisan kali ini penulis hendak meneropong UNM lewat pendekatan semiotika untuk melihat relasi tanda dan makna dari fakta-fakta yang ada sebagai tanda dan tujuan UNM sebagai maknanya.

Semiotika adalah ilmu yang memepelajari relasi antara tanda, petanda dan penanda yang dikaitkan dengan realitas dimana tanda dan petanda itu hadir. Secara garis besar Semiotika hadir untuk menganalisis tanda-tanda atau kode-kode social pada kehidupan masyarakat  jika dikaitkan dengan sebuah kepentingan ideology tertentu. Maksudnya makna-makna yang ada dalam realitas terjadi lewat kehadiran tanda sebagai perwakilan diri realitas itu sendiri.  Umberto Eco, salah satu tokoh yang  konsen dalam wacana ini pernah memberikan defenisi semiotika sebagai Ilmu yang di dalamnya segala sesuatu dapat dijadikan untuk berdusta. Artinya tanda-tanda yang hadir ditengah kita adalah kedustaan yang menyembunyikan makna yang sesungguhnya. Misalnya dalam pengungkapan realitas A seseorang atau sebuah sistem tidak menghadirkan sebagaimana realitas itu sendiri. Artinya realitas A dalam pengungkapannya oleh tanda malah menghadirkan realitas yang berbeda, B misalnya. Disini ada relasi yang terputus antara tanda, isi (content) dan makna (meaning) hadir tidak sesuai dengan realitas sebenarnya.

Lewat penjalasan singkat di atas tentang semiotika sebagai ilmu yang mempelajari tanda dalam relasinya dengan ideology tertentu, alangkah menariknya jika UNM sebagai satu sistem masyarakat, dapat kita selami dengan bantuan semiotika untuk menilai makna apa yang ada di belakang fenomena yang terjadi dan kepentingan apa yang turut bermain dibelakangnya jika dilihat dari kehadiran tanda-tanda yang ada di sekeliling kita.

Fenomena  kampus yang terjadi ditengah kita adalah kehadiran tanda-tanda yang mewakili makna-makna tertentu untuk membentuk relitas. Keadaan kampus yang sepi dari aktifitas pencerahan, Lembaga yang cenderung pasif, pembangunan gedung-gedung baru, kelas bilingual, UTUL, biaya IKOMA, DPP, BOP, penulis kategorikan sebagai tanda yang hadir untuk mewakili kehadiran makna yang ada di belakang fenomena yang terjadi. Makna yang sesunggguhnya bersembunyi lewat kehadiran tanda-tanda diatas. Kehadiran tanda sebagai perwakilan makna pada kasus di atas merupakan kejadian semu yang menyembunyikan kebenaran fakta dari yang terjadi sebenarnya. Terdapat keterputusan trace (jejak) dari petanda dengan penanda pada kasus di atas sehingga makna sebenarnya tidak dapat terpancang pasti dengan kehadiran tanda-tanda yang ada. Maksudnya pada kasus di atas antara makna yang sebenarnya dengan tanda yang hadir tidaklah linear dengan petanda lainnya. Antara “kondisi  kampus yang biasa” sebagai petanda dengan “biaya pendidikan” sebagai petanda lainnya terdapat kesimpangsiuran trace sehingga mengaburkan  makna yang terdapat didalamnya.

Objektivikasi pun terjadi pula pada kasus di atas, “aktifitas kelembagaan” sebagai sebuah kondisi telah terinternalisasi lewat penciptaan objek-objek yang dihadirkan sehingga terbentuk subjektivitas yang di inginkan oleh pencipta objek-objek sebagai tanda. Pemindahan sekretariat adalah proses objektivikasi yang penulis maksudkan guna membentuk kesadaran baru

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.